Senin, 14 Mei 2012

makna filosofi batik


PENDAHULUAN
Kain batik yang diidentikkan sebagai kain Nusantara kini berkembang menjadi industri 
modern. Konsekuensi dari masuknya batik ke dalam industri modern, batik dituntut mengikuti 
perkembangan zaman, sesuai perkembangan mode dan dengan tuntutan pasar. 
Perkembangan batik yang mengikuti perkembangan zaman dari tahun ke tahun akhirnya 
menunjukkan dinamika beragam.
Batik sebagai produk seni adiluhung, awalnya kelahirannya banyak diwarnai simbolsimbol keraton. Penggunaannya pun seperti masih terbatas didominasi oleh kalangan keraton. 
Tapi akibat pergeseran waktu, batik pun kemudian menjadi komoditas yang diperdagangkan 
secara luas. Dewasa ini, penggunaan batik sudah mulai memasyarakat. Batik juga sudah mulai 
digunakan tidak hanya dalam upacara adat, namun juga dalam keseharian. Mulai bermunculan 
baju-baju yang bermotif batik. Hingga saat ini banyak sekali tempat tempat khusus yang 
menjual batik ini. Mulai dari batik yang benar-benar sakral dan murni, hingga batik modifikasi 
yang diaplikasikan dalam pakaian sehari-hari. 
Dalam perkembangannya, upaya membuat kain Nusantara bisa memenuhi kebutuhan 
masa kini mengambil beragam bentuk. Bukan hanya ragam hias yang disesuaikan kebutuhan 
saat ini atau benang kapas diganti sutra untuk mendapatkan kain yang lebih ringan dan lebih 
mudah disesuaikan untuk berbagai keperluan, melainkan juga cara kain tersebut digunakan, 
terutama ketika kain tersebut ditujukan untuk busana.
Saat ini batik telah menjadi tren baru di tengah masyarakat. Tak hanya sandang yang 
menggunakan kain batik sebagai bahannya. Sarung bantal, gordyn, dan seprei pun telah ada 
yang menggunakan kain batik. Ini adalah awal mula yang baik bagi pelestarian seni batik. 
Awalnya harus mencintai dahulu, kemudian muncul rasa andarbeni (memiliki) dan akhirnya 
nguri-uri (melestarikan).
Batik
Secara etimologis batik mempunyai pengertian akhiran “tik” dalam kata “batik” berasal 
dari kata menitik atau menetes. Dalam bahasa kuno disebut serat, dan dalam bahasa ngoko
disebut “tulis” atau menulis dengan lilin. Menurut Kuswadji (1981:2) “mbatik” berasal dari 2
kata “tik” yag berarti kecil. Dengan demikian dapat dikatakan “mbatik” adalah menulis atau 
menggambar serba rumit (kecil-kecil).
Arti batik dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia ialah kain dan sebagainya yang 
bergambar (bercorak beragi) yang pembuatannya dengan cara titik (mula-mula ditulisi atau 
ditera dengan lilin lalu diwarnakan dengan tarum dan soga) (WJS Poerwadarminta,1976:96).
Pendapat senada dikemukakan Murtihadi dan Mukminatun (1997:3) yang menyatakan 
batik adalah cara pembuatan bahan sandang berupa tekstil yang bercorak pewarnaan dengan 
menggunakan lilin sebagai penutup untuk mengamankan warna dari perembesan warna yang 
lain di dalam pencelupan.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat dikemukakan bahwa batik adalah bahan 
tekstil hasil pewarnaan menurut corak khas motif batik, secara pencelupan rintang dengan 
menggunakan lilin batik sebagai bahan perintang.
Yang dimaksud dengan teknik membuat batik adalah proses proses pekerjaan dari tahap 
persiapan kain sampai menjadi kain batik. Pekerjaan persiapan meliputi segala pekerjaan pada 
kain mori hingga siap dibuat batik seperti nggirah/ngetel (mencuci), nganji(menganji), 
ngemplong(seterika, kalendering. Sedangkan proses membuat batik meliputi pekerjaan 
pembuatan batik yang sebenarnya terdiri dari pelekatan lilin batik pada kain untuk membuat 
motif, pewarnaan batik (celup, colet, lukis/painting, printing), yang terakhir adalah 
penghilangan lilin dari kain . (Sewan Soesanto, 1974).
Untuk membuat motif batik dapat dilakukan dengan cara secara tulis tangan dengan 
canting tulis (batik tulis), menggunakan cap dari tembaga disebut batik cap, dengan jalan 
dibuat motif pada mesin printing (batik printing), dengan cara dibordir disebut batik bordir, 
serta dibuat dengan kombinasi kombinasi cara cara yang telah disebutkan.   
Kain batik adalah kain yang motifnya bercorak batik yang dibuat/digambar dengan cara 
pelekatan lilin (malam). Sedangkan kain bermotif  batik adalah kain yang bermotif/bercorak 
batik tetapi motifnya tidak digambar melalui pelekatan lilin batik, biasanya dengan mesin 
printing tekstil.
Teknologi pembuatan batik di Indonesia pada prinsipnya berdasarkan (Resist Dyes 
Technique” (Teknik celup rintang) dimana pembuatannya semula dikerjakan dengan cara ikatcelup motif yang sangat sederhana, kemudian menggunakan zat perintang warna. Pada 
mulanya sebagai zat perintang digunakan bubur ketan, kemudian  diketemukan zat perintang 
dari malam(lilin) dan digunakan sampai sekarang.
Motif batik
Motif batik adalah kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan (Sewan 
Susanto, 1980:212). Motif batik terdiri dari dua bagian, yaitu ornamen motif batik dan isen 
motif batik
Penggolongan motif batik
1.   Motif Geometris
Motif Geometris adalah motif-motif batik yang ornament-ornamennya merupakan susunan 
geometris. Ciri ragam hias geometris ini adalah motif tersebut mudah dibagi-bagi menjadi 
bagian-bagian yang disebut satu “raport”.  Golongan geometris ini pada dasarnya dapat 
dibedakan atas dua macam, yaitu:
a. Raportnya berbentuk seperti ilmu ukur biasa, seperti bentuk-bentuk segiempat, 
segiempat panjang atau lingkaran. Motif batik yang memiliki raport segi empat adalah 
golongan Banji, Ceplok, Ganggang, Kawung.
b. Raportnya tersusun dalam garis miring, sehingga raportnya berbentuk semacam belah 
ketupat. Contoh motif ini adalah golongan parang dan udan liris.
2.   Motif Non Geometris
Motif non geometris adalah motif-motif batik yang tidak geometris. Termasuk dalam motif 
ini adalah  motis Semen, Buketan, Terang Bulan. Motif-motif golongan non geometris 
tersusun dari ornament-ornamen tumbuhan, Meru, Pohon Hayat, Candi, Binatang, Burung, 
Garuda, Ular (Naga) dalam susunan tidak teratur menurut bidang geometris meskipun dalam 
bidang luas akan terjadi berulang kembali susunan motif tersebut.
Ornamen motif batik
Ornamen motif batik terdiri atas ornamen utama dan ornamen pengisi bidang.
Contoh Motif Geometris
Contoh Motif Non Geometris
  4
a.Ornamen utama adalah suatu ragam hias yang mempunyai arti, sehingga susunan ornamenornamen itu dalam suatu motif membuat jiwa atau arti daripada motif itu sendiri. 
Contoh:
 Sawat atau lar, melambangkan mahkota atau penguasa tertinggi
 Meru melambangkan gunung atau tanah
 Lidah api atau Modang, melambangkan nyala api
 Ular/naga, melambangkan air
 Burung, melambangkan angin
Gambar ragam hias
Ragam hias Sawat, 
Lar
Ragam hias Naga Ragam hias Meru 
(gunung)
Ragam hias Lidah 
api/ Modang
b.Ornamen tambahan tidak mempunyai arti dalam pembentukan motif dan berfungsi sebagai 
pengisi bidang. Bentuk lebih kecil dan sederhana. Dalam satu motif dapat diisi satu atau 
beberapa ornament pengisi.
Isen motif batik
Motif batik terdiri dari ornamen utama dan ornamen pengisi. Isen motif batik adalah berupa 
titik-titik, garis-garis, gabungan titik dan garis yang berfungsi untuk mengisi ornamen-ornamen 
dari motif atau pengisi bidang diantara ornamen-ornamen tersebut. Isen motif ada bermacammacam dan sekarang masih berkembang, seperti: cecek, cecek pitu, sisik melik, cecek sawut, 
cecek sawu daun, sisik gringsing, galaran, rambutan, sirapan, cacah gori, dan sebagainya.
ISEN-ISEN BATIK
1. CECEK-CECEK
arti: titik-titik
2. CECEK PITU
arti : titik tujuh
3. SISIK MELIK
arti : sisik bertitik
4. SAWUT
arti : bunga berjalur5
5. GALARAN
arti: seperti galar
6. RAMBUTAN/RAWAN
arti : seperti rambut atau air rawa
7. SIRAPAN
arti: gambaran atap dari sirap
8. CECEK SAWUT DAUN
arti: garis-garis menjari dan titik-titik
9. HERANGAN
arti: gambaran pecahan yang berserakan
10. SISIK
arti: gambaran sisik
11. GRINGSING
arti: penutupan
Makna batik
Untuk lebih memahami makna batik, ada dua daerah asal batik yang perlu dipelajari yaitu 
daerah Yogyakarta dan daerah Solo.
1. Batik daerah Solo
Daerah Solo merupakan kerajaan dengan segala tradisi dan adat istiadatnya. Ragam 
hias batik diciptakan dengan pesan dan harapan semoga membawa kebaikan bagi pemakai. 
Semua dilukiskan secara simbolis, misalnya:
a. Ragam hias larangan dan dianggap 
sakral, hanya dikenakan raja dan 
keluarganya yaitu parang rusak barong, 
sawat dan kawung.
Ragam hias Parang Rusak Barong6
Ragam hias Kawung Prabu
b. Ragam hias slobog, berarti agak 
besar/longgar dipakai untuk melayat. 
harapannya semoga arwah yang 
meninggal tidak mendapat halangan.
Ragam hias Slobog
c. Sidomukti, dipakai pengantin. Sido 
berarti terus menerus dan mukti berarti 
hidup berkecukupan.
Ragam hias Sido Mukti
d. Truntum, dipakai orang tua pengantin. 
Truntum berarti menuntun, maknanya 
orang tua menuntun mempelai 
memasuki hidup baru
Ragam hias Truntum
e. Satria Manah, dipakai wali pengantin 
pria ketika meminang dengan harapan 
semoga lamaran sang pria dapat 
diterima dengan baik oleh pihak wanita.
Ragam hias Satria Manah 7
f. Semen Rante, dipakai wali pengantin 
wanita ketika menerima lamaran. Rantai 
melambangkan ikatan yang 
kokoh.Harapannya jika lamaran telah 
diterima, pihak wanita menginginkan 
hubungan erat dan kokoh yang tidak 
dapat lepas lagi.
Ragam hias Semen Rante
g. Parang Kusumo, dipakai gadis pada 
upacara tukar cincin. kusumo berarti 
bunga yang sedang mekar
Ragam hias Parang Kusumo
h. Pamiluto, dikenakan ibu si gadis pada 
upacara tukar cincin. Berasal dari kata 
pulut, melambangkan harapan ibu agar 
pasangan dara dan pria tidak 
terpisahkan lagi.
Ragam hias Pamiluto
i. Bondet, dipakai pengantin wanita pada 
malam pertama. Berasal dari kata 
bundet berarti saling mengikat
Ragam hias Bondet8
j. Semen Gendong dipakai pengantin 
setelah selesai upacara perkawinan 
dengan harapan agar dapat segera 
mengendong bayi
Ragam hias Semen Gendong
k. Ceplok Kasatriyan, dipakai sebagai kain 
untuk upacara kirab pengantin. Batik ini 
digunakan oleh golongan menengah ke 
bawah. Pemakainya agar terlihat gagah 
dan memiliki sifat ksatria.
Ragam hias Ceplok Kasatriyan
2. Batik daerah Yogyakarta 
Perpaduan tata ragam hias  Yogyakarta cenderung pada perpaduan berbagai jenis ragam 
hias geometris dan berukuran besar, misalnya:
a. Ragam hias Grompol, dikenakan pada 
upacara perkawinan. Grompol berarti 
berkumpul atau bersatu, merupakan 
pengharapan berkumpulnya segala 
sesuatu yang baik-baik seperti rejeki, 
kebahagiaan, keturunan, hidup rukun dan 
sebagainya.
Ragam hias Grompol
b. Tambal digunakan untuk selimut orang 
sakit. Tambal diambil dari pengertian 
menambal, yaitu berarti menambah atau 
memperbaiki sesuatu yang kurang 
sehingga kemudian dianggap dapat 
menyehatkan yang sakit.
Ragam hias Tambal
PENUTUP
Batik tidak hanya sekedar wastra, tetapi karya seni budaya, yang pada awalnya selalu 
dihadirkan pada upacara-upacara tradisi dalam masyarakat Jawa. Batik selalu menyertai setiap 
tahapan dalam daur hidup manusia. Filosofi dalam pola batik yang merupakan harapan atau 
doa-doa itulah yang menyebabkan batik selalu ada pada setiap upacara-upacara masyarakat 
Jawa, dari saat dilahirkan hingga maut menjemput.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar